Harga Minyak menguat pada Senin disesi Eropa, melanjutkan kenaikan pekan lalu di tengah kekhawatiran gangguan pasokan Rusia dan fokus ke pertemuan The Fed. Pukul 05:00 ET (09:00 GMT), Brent kontrak November naik 0,3% ke $67,48/barel, sementara WTI menguat 0,4% ke $62,94/barel. Serangan drone Ukraina ke infrastruktur energi Moskow—termasuk pelabuhan Primorsk (terminal ekspor terbesar) dan kilang Kirishinefteorgsintez—menambah premi risiko pasokan.
Analis menilai operasi di Primorsk sempat terganggu, dan beberapa stasiun pompa menuju Ust-Luga juga dilaporkan jadi target. Ini menimbulkan potensi penurunan suplai Rusia untuk Pasar utama seperti India dan Tiongkok. Di saat yang sama, upaya Barat menekan Moskow terus berlanjut, sementara pembicaraan damai tersendat—faktor yang bisa menjaga ketidakpastian pasokan.
Dari sisi permintaan, data Tiongkok menunjukkan output pabrik dan penjualan ritel Agustus melemah ke laju terendah sejak tahun lalu. Namun, kilang memproses hampir 15 juta bph (+7,6% yoy) didukung impor kuat dan produksi domestik lebih tinggi, dengan permintaan Minyak tampak naik ke 14,53 juta bph (+4,9% yoy). Kombinasi data lemah dan throughput tinggi ini membuat prospek permintaan Tiongkok tetap campuran, tapi tidak surut.
Pasar juga menanti pemangkasan suku bunga The Fed pekan ini. Dolar yang melemah di tengah peluang -25 bps (≈96,4%)—dengan 3,6% peluang -50 bps—memberi angin ke komoditas berdenominasi USD. suku bunga lebih rendah biasanya mendukung aktivitas ekonomi dan permintaan Minyak, meski kekhawatiran soal melemahnya konsumsi BBM AS tetap membayangi.
Poin penting :
Brent $67,20, WTI $62,94: lanjutkan kenaikan pekan lalu.
Risiko pasokan: serangan ke Primorsk & Kirishinefteorgsintez, potensi gangguan ke India/Tiongkok.
Tiongkok: data ekonomi melemah, tapi throughput kilang & permintaan tampak naik yoy.
The Fed: peluang -25 bps tinggi → USD melemah → bias positif untuk Minyak; namun permintaan BBM AS masih jadi perhatian.(ayu)
Sumber: newsmaker.id